Dulu gue sempat percaya sama satu omongan yang lumayan nempel di kepala: road trip sama anak kecil itu neraka di atas roda. Katanya bakal rewel sepanjang jalan, mabuk perjalanan, dan ujung-ujungnya orang tua yang stres, bukan liburan. Jadi selama dua tahun pertama punya anak, gue dan istri milih destinasi yang deket-deket aja, atau malah diam di rumah sambil nonton vlog orang jalan-jalan. Sedih, sih, kalau diinget.
Yang bikin gue berubah pikiran justru obrolan di parkiran sekolah. Seorang bapak yang udah punya tiga anak cerita kalau dia baru balik dari perjalanan darat ke Bromo bawa dua anaknya yang masih SD. Gue kaget, kok bisa? Dia ketawa, terus bilang satu kalimat yang masih gue inget sampai sekarang: "Mitosnya lebih serem daripada jalannya."
Nah, dari situ gue mulai ngerapiin catatan. Ternyata banyak banget "kebenaran umum" soal road trip keluarga yang kalau dicek di lapangan malah nggak cocok. Ini beberapa di antaranya, plus versi aslinya menurut pengalaman gue dan temen-temen yang udah nyoba.
Mitos 1: Anak kecil pasti mabuk perjalanan
Ini yang paling sering gue denger, dan yang paling bikin orang tua mundur. Kenyataannya, mabuk perjalanan itu bukan takdir. Dia lebih soal kondisi di dalam mobil dan ritme perjalanan. Anak yang mabuk biasanya karena main HP sambil mobil jalan, karena perutnya kosong, atau karena jalannya terlalu berkelok tanpa jeda.
Waktu gue bawa anak ke arah Puncak, gue coba aturan sederhana: nggak ada layar selama mobil jalan, jendela dibuka sedikit biar ada udara, dan berhenti tiap 90 menit walau cuma buat ngadem di minimarket. Hasilnya? Anak gue tidur dua jam dan bangun-bangun udah mau sampai. Nggak ada drama sama sekali. Istri gue sampai bilang, "Kirain bakal ribut."
Mabuk perjalanan itu seringnya masalah kebiasaan dan persiapan, bukan masalah umur anak.
Mitos 2: Harus jauh dan lama biar liburannya berasa
Ada anggapan kalau perjalanan darat cuma "worth it" kalau tujuannya lintas provinsi dan nginep minimal empat malam. Buat keluarga kecil di kota besar yang waktu cutinya terbatas, pola pikir ini justru bikin kita nggak pernah berangkat sama sekali. Soalnya syaratnya terlalu berat, jadi nggak pernah kesampaian.
Padahal jarak 2-3 jam dari Jakarta atau Surabaya itu udah cukup buat ngasih anak pengalaman yang beda total dari rutinitas. Kami pernah cuma ke kebun strawberry di daerah Lembang, nginep satu malam di penginapan murah, dan anak gue cerita soal itu selama seminggu ke gurunya. Buat dia, itu udah petualangan besar.
Gue jadi sadar, yang bikin liburan berkesan bukan jarak di peta, tapi seberapa beda rasanya dari hari biasa. Kadang cukup dengan bangun pagi di tempat yang ada suara burung, bukan suara motor.
Mitos 3: Bawa anak kecil artinya nggak bisa ke tempat alam
Ini nih yang bikin banyak keluarga muda cuma muter-muter di mal dan hotel. Katanya tempat alam itu susah aksesnya, nggak ada fasilitas, dan berbahaya buat anak. Sebagian benar, tapi cuma sebagian. Banyak destinasi alam di Indonesia sekarang udah jauh lebih ramah keluarga, tinggal pinter milih.
Cara milih destinasi alam yang aman buat anak
- Cek jarak dari parkir ke spot utama. Kalau harus trekking lebih dari 30 menit, mungkin simpan dulu buat nanti.
- Pilih yang ada jalur paving atau boardwalk. Beberapa kawasan seperti Dieng dan dataran tinggi di Jawa punya jalur yang cukup nyaman buat stroller.
- Datang pagi. Cuaca lebih adem, orang lebih sedikit, dan anak masih punya energi.
- Bawa jaket dan baju ganti. Suhu di tempat tinggi bisa turun cepat, apalagi kalau kehujanan.
Gue dan istri pernah bawa anak ke kawasan perkebunan teh di Pangalengan. Jalannya lumayan, ada warung di tengah kebun, dan anak gue bisa lari-lari di rumput tanpa gue deg-degan. Jauh lebih tenang daripada ngurusin dia yang bosan di lorong mal.
Mitos 4: Road trip keluarga itu mahal
Banyak yang mikir perjalanan darat lebih boros karena bensin, tol, dan nginep. Padahal kalau dihitung-hitung, buat keluarga tiga sampai empat orang, road trip jarak menengah sering lebih murah daripada naik pesawat plus sewa mobil di tujuan. Apalagi kalau waktunya fleksibel dan bisa berangkat di hari kerja.
Yang bikin boros sebenarnya bukan jalannya, tapi kebiasaan belanja di rest area. Ini gue akui, gue juga pernah kena. Sekali berhenti bisa keluar seratus ribu cuma buat kopi, camilan, dan mainan kecil yang dua jam kemudian udah dilupain. Solusinya simpel: bawa bekal dari rumah, isi ulang air minum, dan tentuin budget jajan harian sebelum berangkat.
Kalau soal penginapan, kami biasanya pilih yang ada dapur bersama atau minimal kulkas kecil. Jadi bisa bawa makanan buat sarapan anak. Penghematan kecil begini yang bikin total biaya perjalanan turun lumayan banyak tanpa ngurangin keseruan.
Yang justru sering kelewat dari perhatian
Selama ini kita sibuk mikirin mitos yang belum tentu benar, sampai lupa hal-hal yang beneran penting. Misalnya, cek kondisi rem dan ban sebelum berangkat. Kedengeran sepele, tapi ini yang bikin perjalanan keluarga aman atau nggak. Gue selalu minta montir langganan ngecek mobil minimal tiga hari sebelum berangkat, bukan sehari sebelumnya, biar kalau ada yang harus diganti masih ada waktu.
Terus, siapin rencana B. Namanya bawa anak, mood bisa berubah tiba-tiba. Kalau di tengah jalan anak mulai cranky, jangan maksa lanjut ke destinasi berikutnya. Kadang berhenti di taman kota atau masjid yang bersih udah cukup buat ngembaliin suasana. Ini yang nggak pernah ada di itinerary mana pun, tapi paling sering nyelametin liburan kami.
Gue nggak bilang road trip keluarga itu selalu gampang. Ada kalanya anak nangis karena kepanasan, ada kalanya kita nyasar gara-gara GPS ngaco. Tapi kalau dibandingin sama rasa lega waktu liat anak ketawa di tempat baru, semua repot itu kecil banget. Mitos-mitos tadi cuma bikin kita nunda keberangkatan yang sebenarnya udah lama pengen kita lakuin.
Jadi kalau kamu lagi ragu ngajak si kecil jalan darat, coba deh cek dulu, ragu kamu ini berdasar pengalaman atau cuma katanya-katanya. Sering kali jawabannya yang kedua.