Jumat, 25 September 2026 Berita Terkini & Terpercaya
byobthemes.combyobthemes.com
byobthemes.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Dieng Plateau: Negeri di Atas Awan yang Bikin Susa...

Dieng Plateau: Negeri di Atas Awan yang Bikin Susah Move On

Cerita dan tips jalan-jalan ke Dieng: sunrise Sikunir, Telaga Warna, embun es, sampai mie ongklok yang bikin kangen.

Dieng Plateau: Negeri di Atas Awan yang Bikin Susah Move On

Jujur aja, Dieng itu salah satu tempat yang bikin gue susah move on. Udah dua kali ke sana, tapi rasanya masih pengen balik lagi.

Dataran tinggi di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara ini sering disebut negeri di atas awan, dan itu bukan sekadar gimmick. Posisinya ada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, jadi udaranya dingin sepanjang tahun. Kalau kamu datang antara Juli sampai Agustus, suhunya bahkan bisa turun di bawah nol derajat. Ladang-ladang kentang milik warga berubah putih kena embun es. Iya, es beneran, di Indonesia.

Kenapa Dieng, Bukan Bromo?

Pertanyaan ini sering banget muncul tiap gue cerita soal Dieng. Bromo memang lebih terkenal, fotonya lebih sering seliweran di media sosial, dan aksesnya juga udah rapi. Tapi justru di situ masalahnya — Bromo sekarang ramenya minta ampun, apalagi pas long weekend. Dieng masih punya suasana desa yang tenang, warga yang ramah, dan harga-harga yang jauh lebih bersahabat.

Satu lagi yang bikin Dieng beda: variasinya. Dalam satu kawasan yang bisa dijelajahi dua hari, kamu dapat sunrise di atas bukit, telaga yang warnanya bisa berubah, kawah belerang yang masih aktif, candi Hindu tertua di Jawa, sampai kuliner khas yang nggak ada di tempat lain. Paket komplit, menurut gue.

Sunrise Bukit Sikunir yang Katanya Terbaik di Jawa

Ini agenda wajib. Bukit Sikunir ada di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Pendakiannya pendek kok, cuma sekitar 20-30 menit dari area parkir, jadi ramah buat yang jarang olahraga sekalipun.

Waktu pertama kali ke sana, gue berangkat jam 4 pagi dari homestay dengan mata setengah merem dan jaket dobel tiga. Sampai di puncak, semua rasa ngantuk itu langsung lunas. Lautan awan menghampar di bawah, lalu perlahan langit berubah dari ungu, oranye, sampai keemasan. Gunung Sindoro berdiri gagah persis di depan, dan kalau cerah kelihatan juga Sumbing, Merbabu, sampai Merapi di kejauhan. Nggak heran banyak yang nyebut ini golden sunrise terbaik di Jawa.

Tips dari gue: jangan cuma sibuk motret. Sisihkan lima menit buat diam dan nikmatin aja pemandangannya. Momen kayak gini nggak sering-sering datang.

Biar Nggak Zonk pas ke Sikunir

  • Datang di musim kemarau (Mei-September) — peluang dapat langit cerah jauh lebih besar.
  • Bawa jaket tebal, sarung tangan, dan kupluk. Suhu subuh bisa 5 derajat atau kurang, dinginnya nusuk sampai tulang.
  • Berangkat maksimal jam 4 pagi biar dapat spot enak sebelum rombongan lain naik.
  • Pakai sepatu, bukan sandal jepit. Jalurnya pendek tapi berbatu dan kadang licin.

Keliling Kawasan: Telaga Warna sampai Candi Berumur 1.200 Tahun

Habis sunrise, jangan langsung pulang tidur. Justru pagi sampai siang itu waktu terbaik buat keliling.

Telaga Warna jadi favorit gue. Airnya bisa berubah-ubah warna — kadang hijau toska, kadang kebiruan — gara-gara kandungan belerang yang memantulkan cahaya matahari. Paling cakep dilihat dari atas, dari Batu Ratapan Angin. Naiknya bikin ngos-ngosan dikit, tapi pemandangan dua telaga bersebelahan dari ketinggian itu worth it banget.

Nggak jauh dari situ ada Kawah Sikidang, kawah vulkanik aktif yang asapnya ngebul terus dan baunya... yah, khas belerang. Sekarang areanya udah ditata rapi pakai jembatan kayu, jadi aman buat pengunjung. Lanjut ke kompleks Candi Arjuna, candi Hindu peninggalan abad ke-8 yang umurnya lebih dari 1.200 tahun. Berdiri di tengah lapangan rumput luas dengan latar perbukitan dan kabut tipis, suasananya tenang banget. Kalau beruntung, kamu bisa pas datang waktu ada acara budaya kayak ruwatan rambut gimbal yang terkenal itu.

Urusan Perut, Akses, dan Kapan Waktu Terbaiknya

Dingin-dingin gini enaknya makan yang anget. Untungnya Dieng dan Wonosobo punya jagoannya.

Mie Ongklok, Comfort Food Paling Pas Buat Udara Dingin

Mie rebus disiram kuah kental dari pati yang gurih manis, ditambah kucai dan kol, biasanya dimakan bareng sate sapi dan tempe kemul. Kedengarannya sederhana, tapi makan mie ongklok panas-panas sambil badan menggigil itu rasanya beda. Harganya juga ramah, rata-rata masih di bawah 15 ribu semangkuk.

Selain itu, cobain carica — pepaya gunung yang cuma tumbuh di dataran tinggi kayak Dieng — biasanya diolah jadi manisan dalam sirup. Seger, dan pas banget buat oleh-oleh. Ada juga purwaceng, minuman herbal khas Dieng yang katanya nambah stamina. Soal khasiat gue no comment, tapi rasanya unik, mirip jahe tapi lebih nendang.

Buat rute, gampang. Dari Jakarta atau Bandung, naik kereta atau bus ke Purwokerto, lanjut bus ke Wonosobo, terus sambung mikrobus ke Dieng sekitar satu jam. Dari Jogja atau Semarang malah lebih dekat lagi. Di sana banyak homestay milik warga dengan harga mulai 150 ribuan per malam — kamu nginep di rumah penduduk, sekalian ngobrol dan kenal kehidupan mereka.

Idealnya luangin dua hari satu malam biar nggak keburu-buru. Datang sore, istirahat, subuh naik Sikunir, lanjut keliling telaga dan candi, sorenya nyantai sambil ngeteh anget di depan homestay.

Dieng ngajarin gue satu hal: tempat keren di Indonesia itu nggak harus jauh dan mahal. Kadang dia sembunyi di balik kabut, di desa kecil di atas awan, nungguin kamu datang. Jadi... kapan berangkat?

Tags: dieng wisata jawa tengah wonosobo sunrise sikunir travel indonesia

Baca Juga: qiyouping.com