Gue sering ketemu teman-teman pensiunan yang mikirnya begini: sudah pensiun, masa iya jalan-jalan pakai hitung-hitungan? Padahal justru di fase ini kita punya satu hal yang anak muda jarang punya — waktu. Dan waktu itu, kalau dipakai dengan cerdik, bisa jadi alat penghemat paling ampuh. Bukan berarti kita jadi pelit sama diri sendiri. Cuma, ada cara jalan yang bikin dompet lebih tenang tanpa bikin perjalanan jadi hambar.
Sebelum lanjut, gue mau jujur dulu. Mertua gue pensiunan guru. Awalnya tiap diajak jalan, dia selalu mau yang praktis: pesan paket tur, ikut rombongan, semua diurus. Enak memang. Tapi setelah tiga kali ikut rombongan, dia ngeluh sendiri — katanya capek, jadwal ketat, dan biayanya membengkak karena banyak singgah ke toko suvenir. Sejak itu dia coba jalan sendiri. Dan ternyata, dia lebih senang. Lebih murah juga.
Kenapa Jalur Sepi Justru Bersahabat dengan Kantong
Ada logika sederhana yang sering kita lupa. Tempat yang ramai biasanya mahal, karena permintaannya tinggi. Sebaliknya, jalur yang sepi, desa yang belum viral, atau pantai yang tak masuk daftar "wajib foto" biasanya jauh lebih murah — mulai dari penginapan, makan, sampai parkir. Dan untuk kita yang sudah tidak buru-buru, sepi itu bukan kekurangan. Justru berkah.
Baca juga: Saya Ibu Rumah Tangga, Liburan Cuma 2 Hari tapi Nagih
Coba bandingkan. Menginap di kawasan wisata yang sedang naik daun di Bali atau Yogyakarta bisa dua sampai tiga kali lipat harga homestay di desa sebelahnya, padahal jaraknya cuma 20–30 menit. Makan di warung desa Rp15 ribu, di kafe hits Rp60 ribu. Belum lagi tiket masuk yang ikut naik tiap kali tempatnya ramai di media sosial.
Gue bukan sedang menyuruh kamu menghindari tempat terkenal. Kalau belum pernah ke Borobudur, ya ke Borobudur saja. Tapi untuk menginap dan makan, pilihlah area di sekitarnya yang lebih tenang. Kamu tetap dapat pengalamannya, tapi bayarnya lebih masuk akal.
Contoh rute yang gue rasa cocok buat pensiunan
- Jawa Timur bagian selatan: daripada menginap di pusat kota Malang yang ramai, cari penginapan di area Tumpang atau Batu bagian atas. Udara sejuk, harga lebih rendah, dan akses ke Bromo tetap dekat.
- Sumatera Barat: Danau Maninjau punya banyak homestay tepi danau dengan tarif jauh di bawah Bukittinggi. Sarapan di beranda sambil lihat kabut naik dari air — itu gratis.
- Nusa Tenggara: hindari menginap di Labuan Bajo pusat. Pilih desa di sekitarnya, lalu sewa mobil bersama teman sesama pensiunan supaya biaya transportasi terbagi.
- Sulawesi Utara: Tomohon dan sekitarnya punya banyak penginapan keluarga murah, dengan pasar tradisional yang ramai di pagi hari — murah, segar, dan ramah buat kita yang suka suasana lokal.
Waktu Itu Uang — dan Kita Punya Banyak Waktu
Ini bagian yang paling sering dilewatkan. Anak muda jalan-jalan pas musim liburan karena itu satu-satunya waktu mereka. Kita tidak. Kita bisa berangkat hari Selasa, pulang hari Kamis, di luar musim ramai. Harga tiket pesawat bisa turun 30–40 persen. Hotel sepi, jadi sering dapat upgrade atau kamar lebih besar tanpa tambahan biaya.
Gue pernah ngobrol dengan pemilik homestay di Dieng. Katanya, tamu yang datang di hari kerja biasanya dia kasih harga lebih murah dan kadang dibolehkan check-out lebih siang. "Soalnya kamar kosong, Mas," katanya sambil ketawa. Nah, itu kesempatan yang anak muda jarang bisa ambil.
Jalan-jalan hemat bukan soal pelit. Ini soal memakai waktu yang kita punya untuk membeli kenyamanan dengan harga yang wajar.
Selain itu, pensiunan biasanya lebih fleksibel soal durasi. Kalau perlu naik bus antarkota daripada pesawat, bisa. Kalau perlu berangkat malam supaya hemat satu malam penginapan, bisa. Kereta ekonomi dengan jendela besar juga bukan hal buruk — malah lebih banyak pemandangan yang bisa dinikmati sambil duduk santai.
Penginapan Sederhana, Asal Tiga Hal Ini Aman
Ini penting, dan gue mau tegas soal ini. Hemat bukan berarti asal murah. Untuk kita yang sudah tidak muda lagi, ada tiga hal yang tidak boleh dikompromikan: kebersihan kamar mandi, keamanan lokasi, dan akses kalau ada keadaan darurat.
Sebelum pesan, cek ulasan dengan teliti. Baca yang bintangnya rendah, jangan cuma yang bagus. Lihat apakah ada keluhan soal air, kasur, atau jalan masuk. Tanya langsung ke pemilik: apakah ada tangga banyak, apakah sinyal telepon bagus, apakah ada rumah sakit terdekat. Pertanyaan begini wajar, kok. Pemilik homestay yang baik justru senang tamunya teliti.
Pilih juga penginapan yang dekat dengan warung makan atau pasar. Kenapa? Karena biaya makan di luar area wisata bisa jauh lebih murah, dan kita bisa sarapan sederhana tanpa harus bayar menu hotel. Beberapa homestay bahkan membolehkan tamunya pakai dapur bersama — hemat, dan tetap terasa seperti di rumah.
Bawa Teman, Bagi Biaya, Tambah Seru
Ini trik yang sering dilupakan pensiunan: jalan berdua atau bertiga dengan teman sesama pensiunan. Sewa mobil jadi terbagi. Kamar bisa dipakai berdua. Pemandu lokal bisa dipakai bersama. Biaya per orang langsung turun banyak, sementara pengalamannya justru makin ramai.
Tapi ada catatannya. Pilih teman yang ritmenya mirip. Kalau satu orang suka bangun jam lima pagi dan yang lain baru siap jam sembilan, perjalanan bisa jadi ribet. Bikin kesepakatan di awal: jam berangkat, jam makan, dan berapa lama di satu tempat. Sederhana, tapi menyelamatkan suasana.
Gue sendiri pernah ikut rombongan kecil empat orang ke Karimunjawa. Kami sewa satu mobil, satu kamar keluarga, dan masak sendiri dua kali sehari. Total biaya per orang jauh lebih ringan dibanding paket tur. Yang paling berkesan justru malam-malam di teras, ngobrol sambil bikin kopi — hal yang tidak akan didapat kalau ikut jadwal rombongan yang padat.
Jadi, buat kamu yang sudah pensiun dan masih ingin jalan: jangan merasa harus ikut cara yang mahal. Pilih jalur yang sepi, berangkat di waktu lengang, menginap sederhana tapi aman, dan ajak teman yang sepaham. Hasilnya bukan perjalanan yang murahan — tapi perjalanan yang pas, tenang, dan tidak bikin dompet deg-degan.